logotng

Pencatatan Nikah Sebagai Kewajiban Syar’iyah Oleh: Masrum M Noor

Written by mangsaku on .

Written by mangsaku on . Hits: 74

PENCATATAN NIKAH SEBAGAI KEWAJIBAN SYAR’IYAH

Oleh: Masrum M Noor

(Hakim Pengadilan Tinggi Agama Banten)

I. PENDAHULUAN

Di kalangan ahli hukum islam dikenal adanya istilah syari’at dan fiqh. Dua istilah ini oleh masyarakat Indonesia sering dimaknai sama sebagai hukum islam,padahal masing-masing mempunyai karakteristik yang berbeda. Akibatnya ummat islam selalu salah faham, bahkan kadang-kadang salah anggapan, syari’at dianggap fiqh dan fiqh dianggap syai’at. Karakter syari’at adalah bersumber dari nash qoth’iy, sedang fiqh bersumber dari nash dhonniy. Syari’at merupakan ketentuan baku dari Allah sebagai syari’, sedang fiqh merupakan hasil ijtihad fuqoha’ terhadap dalil-dalil nash, syari’at bersifat tetap, sedang fiqh dapat berubah sesuai dengan tempat dan zamannya. Syari’at tidak boleh dikurang dan ditambah, sedang fiqh dapat dikurang dan ditambah, bahkan sama sekali baru berdasarkan ‘illatnya.

Memang dalam menentukan hukum baru sebagai fiqh, para ulama telah sepakat harus menggunakan kaidah-kaidah fiqhiyah yang ditetapkan berdasarkan kaidah-kaidah dasar yang berseumber dari syari’at, akan tetapi hasil dari syari’at itu tetap tidak dapat disamakan atau naik ke tingkat syari’at, dia tetap sebagai fiqh atau lebih tepatnya disebut syar’iyat (dinisbatkan sebagai syari’at). Contohnya dalam hukum syarat dan rukun nikah, seperti ijab qabul adalah syari’at, sedangkan dalam hal shighat nikah, apakah harus menggunakan kalimat “ankahtu-ka” dan atau “saya nikahkan anakku kepadamu” adalah masalah fiqh. Tentang pencatatan pernikahan bagi orang islam Indonesia dengan demikian masuk dalam ranah fiqh atau syar’iyat, bukan syari’at.

 

Untuk Selengkapnya Klik DOWNLOAD